Syair Para Pejuang

Kau bilang syair itu membosankan?

Oleh : Hamba Alloh

Lantas kau perlu tahu yang ini. Kata penyemangat dari nurani untuk tiap goresan perjuangan yang tak akan pernah terhapus masa. Jiwa perkasanya, rahim sucinya, bahkan tekad fisabilillahnya menghujam kuat merobohkan keraguan duniawi semata. .

Maka, dengarkanlah sedikit bait bait dari para pejuang masa lampau yang telah terukir dalam sejarah peradaban bernilai tinggi yakni, kejayaan Islam. Dari kejujuran tekad sang Ibunda, keempat mujahid ini siap berpacu dalam arena yang tak bisa main – main dijalankannya. Ada amanah besar yang mesti mereka lakukan yakni, jihad fisabilillah. Sebutlah mereka, putra – putra wanita istimewa, Khonsa’ binti Amru bin Syarid Al-islamiyah. .

Tatkala fajar menyingsing, majulah keempat putranya menuju kamp – kamp musuh. Sesaat kemudian, dengan pedang terhunus anak pertama memulai serangan sambil bersyair, ” Saudaraku, ingatlah pesan ibumu tatkala ia menasehatimu di waktu malam. Nasehatnya sungguh jelas dan tegas, ‘Majulah dengan geram dan wajah muram! ‘ yang kalian hadapi nanti hanyalah anjing – anjing Sasan yang mengaum geram. Mereka telah yakin akan kehancurannya, maka pilihlah antara kehidupan yang tenteram atau kematian yang penuh keberuntungan. ”
Melesatlah anak pertama Khonsa’, hingga akhirnya ia gugur dan kembali pada Nya.

Baca Juga : Mengenal Guru Pembimbing khusus lebih dekat

Berikutnya, yang kedua maju sembari melantunkan,

“Ibunda adalah wanita yang hebat dan tabah, pendapatnya sungguh tepat dan bijaksana, ia perintahkan kita dengan penuh bijaksana, sebagai nasehat yang tulus bagi puteranya ‘Majulah tanpa pusingkan jumlah mereka.. dan raihlah kemenangan yang nyata.. atau kematian yang sungguh mulia di Jannatul Firdaus yang kekal selamanya..’.”
Bertempurlah yang kedua hingga menyusul kesyahidan saudaranya. .

 

Lalu yang ketiga ambil bagian. Ia maju mengikuti jejak kedua saudaranya, seraya bersyair,

“Demi Allah, takkan kudurhakai perintah ibu. Perintah yang syarat dengan kasih sayang. Sebagai kebaktian nan tulus dan kejujuran. Maka majulah dengan gagah ke medan perang. Hingga pasukan Kisra terpukul mundur atau biarkan mereka tahu, bagaimana cara berjuang. Janganlah mundur karena itu tanda kelemahan. Raihlah kemenangan meski maut menghadang. ” Kemudian ia terus bertempur hingga mati terbunuh.

Lalu tibalah giliran anak terakhir yang menyerang. Ia maju seraya melantunkan, ” Aku bukanlah anak si Khansa’ maupun Akhram. Tidak juga Umar atau leluhur yang mulia, jika aku tak menghalau pasukan Ajam, melawan bahaya dan menyibak barisan tentara. Demi kemenangan yang menanti, dan kejayaan ataukah kematian, dijalan yang lebih mulia.” Lalu ia pun bertempur habis – habisan hingga gugur.

Ketika berita gugurnya keempat anaknya tadi sampai kepada Khonsa’ ia hanya tabah sembari berkata, ” Segala puji bagi Allah yang memuliakanku dengan kematian mereka. Aku berharap kepada Nya agar mengumpulkanku bersama mereka dalam naungan rahmat-Nya. ”

Begitulah syair yang indah dan bermakna. Tiap baitnya melahirkan ketegaran dan ketegasan yang nyata. Maka, dalam syair para pejuang kita belajar. Bahwa bekal amatlah masih sedikit tuk kembali kepadaNya. Barakallahufikum

Syair dikutip dari buku “Ibunda para ulama”